Pada abad ke-16 Masehi atau zaman kerajaan Hindu, datanglah 5 (lima) orang bersaudara ke Rantau Kederas (sekarang dikenal) Pangkal Beloteng Desa Teluk Rendah Ulu yaitu : 1. Datuk Bedarah Putih, 2. Datuk Makam Rendah, 3. Datuk Makam Tinggi, 4. Datuk Calegah, dan 5. Datuk Muara Suluk. Tujuan mereka ingin menyebarkan agama yang mereka anut atau agama Hindu. Saat itu masyarakat masih berpencar belum merupakan kesatuan dan masih memakai system kelompok-kelompok yang saling bermusuhan. Mereka masih mempergunakan ilmu-ilmu bathin atau ilmu hitam yang dapat mengalahkan lawan atau musuh, sebagai contoh menjemur padi pada malam hari dibulan terang, memasang lukah diatas bumbun, daging dimasak dalam kancah (kawah) bias melompat keluar, dan nasi ditanak tidak masak-masak, artinya menantang/ mencari lawan atau musuh. Diantara datuk-datuk tersebut, salah seorang dari mereka atau Datuk Makam Rendah meninggal agama lamanya dan memeluk agama Islam dengan nama H. Abdul Hamid.
Nama asli Teluk Rendah adalah Teluk Pinang Bajek (sekarang dikenal Desa Teluk Rendah Pasar). Selama tinggal ditempat ini, masyarakatnya tidak dapat berkembang dengan baik, pertikaian selalu terjadi, dan masih menunujukkan ilmunya masing-masing, sebagai contioh : ayam belago dengan lesung dan batang pisang dapat belago dengan antan, dan sebagainya. Karena kehidupan disini tidak aman dan damai, maka pada Abad ke-18 M. tuo-tuo dan pemimpin kelompok secara mufakat ingin mencari tempat baru yang lebih aman dengan kata mufakat mulai mencari tempat baru dengan cara menyusuri Sungai Batang Hari menggunakan perahu (sampan) bersama-sama dengan membawa seekor ayam sebagai pedoman atau petunuk. Dimana ayam yang dilepas tadi terbang dan turun kedaratan, nerarti disitulah tempat membuat kampung yang baru, dan temapt ini disebut Ujung Tanjung atau Surau Tanjung Desa Teluk Rendah Ulu sekarang. Setelah kampung ini dibenahi sedemikian rupa dan masyarakatnya mulai berkembang, datanglah 5 (lima ) orang penyebar agama Islam dari Aceh dibawah pimpinan Syaikh Husin Albaiti. Mula-mula mereka memperkenalkan diri dan menyampaikan kepada masyarakat setempat bahwa tujuan mereka ketempat ini adalah untuk menyebar dan memperluas ajaran agama ini. Kedatangan mereka langsung mendapat tempat dihati masyarakat dan ajaran ini mulai diajarkan dari rumah kerumah secara sembunyi-sembunyi karena takut diketahui oleh tentara penjajah Belanda.
Pada saat bersamaan datang pula raja Sultan Thaha Syaifuddin dari Jambi ke daerah ini dan membuat Benteng di Sungai Mangkuan (daerah Tanah Garo) sekarang, maka agama Islam ini makin diperluas. Untuk menghimpun kekuatannya menghadapi tentara Belanda, maka didirikanlah Serikat Islam (SI). Hamper semua tuo Dusun Teluk Rendah bergabung menjadi Debalang Sultan Thaha Syaifuddin secara bahu-membahu melawan penjajahan Belanda. Di dalam dusun mulai dibenahi dengan membuat peraturan berdasarkan agama maupun Adat-Istiadat. Untuk mendalami dan memperluas ajaran agama, maka didirikanlah rumah tempat megaji dan belajar agama dengan sebutan RUMAH KUTAB. Sejak berdiri Rumah Kutab, putra Teluk Rendah dikirim ke Mekkahh Arab Saudi untuk memperdalam ilmunya, ada yang belajar di Madrasah Darul Ullum dan adapula yang belajar di Madrasah Assyafi’iyah. Sekembalinya putra Teluk Rendah dari Mekkah, Rumah Kutab ini dirubah menjadi Rumah Gedang (Besar), ditempat ini pelajara putra dengan pelajar putri terpisah satu dengan lainnya. Untuk mengatur hubungan orang dengan orang, hubungan orang dengan kerajaan, hubungan orang dengan pemerintah yang dikenal Adat Bersendikan Syarak Bersendikan Kitabullah.
Dibidang syarak dapat dikenal dengan sebutan TITIAN TERAS TANGGO BATU artinya berdasarkan Kitab Suci Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad SAW, sedangkan dibidang adat dikenal :
- Adat nan sebenar adat.
- Adat nan teradat.
- Adat nan diadatkan.
- Adat Istiadat.
Undang-undang adat ini dibagi 3 (tiga) bagian yaitu : 1. Induk Undang-Undang, 2. Pucuk Undang-Undang, dan 3. Anak Undang-Undang Nan Dua Belas. Aturan ini tetap berlaku dan tidak bisa dirubah dengan selokanya LAPUK_LAPUK DIPAKAJANG USANG-USANG DIBAHARUI, artinya jangan dirubah sampai akhir zaman.
Induk undang-undang nan 5 (lima ) adalah :
- Titian teras batanggo batu.
- Cermin nan gedang idak kabur.
- Lantak nan idak goyang.
- kato nan seiyo.
- Tak lekang dipanas dan tak lapuk dihujan.
Pucuk undang-undang disebut juga undang-undang nan delapan adalah :
- dago-dagi.
- Samun-sakal.
- Tikam-bunuh.
- sunbang-salah.
- Upas-racun.
- Curi-racun.
- Tepak-tepok.
- Siur-bakar.
Undang-undang nan dua belas adalah :
- Undang-undang dengan faktuk hakkul Allahh (Al-Qur’an).
- Undang-undang dengan takluk hakkul Nabi Muhammad (Hadis).
- Undang-undang rumah betangganai.
- Undang-undang dusun batuo.
- Undang-undang luhak serta penghulu.
- Undang-undang negeri babatin.
- Undang-undang ranatu serta jenang.
- Undang-undang hukum adat.
- Undang-undang alam berajo.
- Undang-undang kepandaian anak negeri.
- Undang-undang payo, sawah, lebak lebung.
- Undang-undang hutan rimbo, sesap jerami semak belukar.
Pucuk undang-undang dan anak undang-undang termasuk dari bagian unndang-undang nan 20 (dua puluh) bagian. Aturan-aturan diatas tetap dipertahankan dan dipakai selama-lamanya.
SEJARAH TERBENTUKNYA NAMA DESA
Nama Desa Teluk Rendah berasal dari keadaan tempat daerah tersebut, dimana didaerah pasar terdapat teluk/tebing, sedangkan di daerah Ulu/Ilir daerahnya rendah. Sehingga daerah ini disebut daerah Teluk Rendah yang sebelumnya disebut Kampung Alur. Untuk nama desa teluk rendah ilir berasal dari posisi daerahnya yang berada di bagian Ilir Teluk Rendah.
PERISTIWA PENTING YANG PERNAH TERJADI
Dibidang Pendidikan
I). Pendidikan umum, pada tanggal 18 Juli 1927 berdirilah satu unit gedung Sekolah Rakyat (SR) terdiri dari 5 (lima) local yang diperuntukkan untuk 5 kelas belajar yaitu kelas I, II, III, IV, dan V. jenjang pendidikan umum baru sebatas itu, ini pun sudah memadai, karena tamatan kelas V sudah bisa mengajar atau menjadi guru di dusun-dusun dalam kewidaan Muara Tebo (sekarang kabupaten Tebo). Sekolah ini dibuka, maka ramailah masyarakat yang berada diluar dusun Teluk Rendah dating secara berkelompok maupun perorangan, mereka ingin belajar dan mencari ilmu pengetahuan baik dibidang agama maupun dibidang umum. Semua para pendatang langsung mendirikan pondok-pondok untuk belajar sampai tamat bahkan ada yang tetap tinggal di Dusun Teluk Rendah.
Diantara Kepala Sekolah tersebut adalah Bapak M. Ibrahim yang berasal dari Ranatu Ikil Bungo dan pernah menjabat Kepala Dinas P dan K Tingkat I Provinsi Jambi. Pengganti beliau adlah Bapak M.Hasan asal dari Tanah Tumbuh Bungo, dimasa Kepala Sekolah ini pendidikan elbih meningkat lagi, beliau mulai memperkenalkan permainan sepak bola (bola kai) dan membangun lapangan untuk bermain bola dengan lapangan khusus, dan tidak sedikit opsir-opsiir Belanda datang bermain bola ke Dusun teluk Rendah dari Muaro Tebo, Bapak M.Hasan pernah juga menjabat Kepala Dinas P dan K Tingkat I Provinsi Jambi.
II). Pendidikan Sekolah Rakyat (SR) ini terus ditingkatkan, kalau dahulu hanya sebatas kelas 5 (lima ), maka tamatan Sekolah Rakyat ini dapat melanjutkan ke Sekolah Guru selama tahun atau dikenal Sekolah HONGKA dengan bahasa pengantar Bahasa Jepang mulai dari Katakana sampai HONJI,
III). Setelah Indonesia merdeka, pada tahun ajaran 1953 Sekolah Rakyat (SR) yang tadinya hanya sebatas kelas 5 (lima) ditingkatkan kekelas VI, setelah tamat sekolah ini banyaklah putra-putra Teluk Rendah melanjutkan sekolah keluar dusun atau ke kota Jambi, ada yang masuk SMP (Sekolah Menengah Pertama), ST (Sekolah Teknik), SGB (Sekolah Pendidikan Guru Bantu), dan PGA (Sekolah Pendidikan Guru Agama). Semua siswa yang belajar di SGB dan PGA, mereka langsung mendapat tunjangan ikatan dinas setiap bulannya.
Pada tahun pelajaran 1982 atau tanggal 18 Mei 1982 didirikanlah Sekolah menengah Pertama (SMP Swasta) dengan nama SMP HARAPAN Teluk Rendah , dengan Kepala Sekolah yang pertama Mohd. Saleh Dung bin Usman Alias Budjang. Pada tahun ajaran 1990/1991 sekolah ini dinegerikan dengan nama SMP Negeri 3 Teluk Rendah. Sejak Kabupaten Bungo Tebo dimekarkan menjadi Kabupaten Bungo dan Tebo, sekolah ini berubah menjadi SMP Negeri 17.
IV). Pendidikan Agama : Pada tanggal 28 September 1928 Sekolah Madrasah yang dikenal Rumah Gedang mulai dibangun Gedung Madrasah baru diberi nama Sekolah Madrasah Nurussa’adah yang terdiri dari 5 (lima ) lokal, sekolah ini mulai dikenalkan jenjang pendidikan yaitu Ibtidaiyah dan Tsanawiyah. Pada jenjang Ibtidaiyah sekolah hanya masuk pada sore hari,sedangkan Tsanawiyah masuk pagi hari. Antara pelajar putra dan putri terpisah tempat belajarnya, gedung baru untuk pelajar putra dan gedungg lama Rumah Gedang tempat pelajar putri. Pada tahun 1967 gedung sekolah putri ini mulai dibangun yang terdiri dari 3 (tiga) lokal dan sampai sekarang tetap terpelihara dengan baik.
Guna meningkatkan pendidikan ini, pada tahun ajaran 1975/76, Ketua Badan Penyelengara Pembinaan Pendidikan (BP3) Pimpinan Mohd. Saleh Dung Usman, siswa Madasah Tsanawiyah yang duduk di Kelas III mulai diikut sertakan mengikuti Ujian Negara/ Negeri dengan berstatus peliyal MTs Negeri Tanjung Gedang Muara- Bungo Kabupaten Bungo Tebo. Setiap tahun siswa-siswa ini banyak yang melanjutkan sekolahnya ke jenjang lebih tinggi, seperti SMU, Aliyah, SMK, dan sampai ke Perguruan Tinggi baik Perguruan Tinggi negeri maupun Perguruan tinggi swasta yang ada di kota Jambi maupun di luar daerah dan lain-lainnya.
Dahulunya desa Teluk Rendah Ilir dalam bidang pendidikan Agama baru pada tingkat Tsanawiyah, kemudian pada tahun pelajaran 1988 telah didirikan Madrasah tingkat atas atau Madrasah Aliyah Nurussa’adah Teluk Rendah Ilir.
Sampai hari ini tepatnya pada akhir tahun pelajaran 2009/2010, adalah mengikuti Ujian Negara/Negeri yang ke-36 kalinya, tetapi belum juga ada tanda-tanda untuk dinegerikan. Sarananya atau gedung punya sendiri sebanyak 6 (enam) lokal dan siswanya cukup banyak. Madrasah ini termasuk madrasah tertua dalam Kabupaten Bungo Tebo sekarang Kabupaten Tebo.
Dibidang Perkebunan
Dibawah pimpinan Lurah Usman Al. Budjang pada pertengahan tahun 1927, warga Teluk Rendah diperintah untuk membuka rimba secara serentak untuk dijadikan perkebunan getah/karet yang dibina langsung oleh Pemerintah Belanda pimpinan Counterliur Muara Tebo, bibit disediakan dan dibagi secara cuma-cuma ke penduduk. Kebun tersebut merupakan kebun wajib bagi semua penduduk, masing-masing harus membuat kebun paling kurang ½ tanah, 1 tanah dan tanah atau ukuran sekarang 1 Ha, 2 ha, dan 4 ha.
Sebelum karet tersebut menghasilkan, mata pencaharian penduduk adalah pergi ke hutan (rimbo) mencari rotan, jernang, getah jelutung, getah sundik dan mencari damar. Pada tahun 1934, kebun ini mulai disadap atau dipotong dan ramailah para sudagar/toke-toke untuk membeli getah/karet ini baik dari Jambi maupun dari luar seperti dari Kuantan, Rengat Provinsi Sumatera Tengah. Sistem pembelian melalui kupon, apabila para saudagar ingin membeli getah/karet harus dibeli kuponnya dulu dari petuani, tujuannya adalah untuk menentukan banyaknya pengeluaran getah/karet tersebut guna menetapkan pajak pemerintah. Kupon-kupon ini dapat dipergunakan saudagar dan toke-toke untuk menjual getah/karet tersebut keluar daerah Jambi atau ke Singapura, bila membawa getah keluar tidak membawa kupon tidak diizinkan membawanya. Kalau sekarang dikenal Surat LISENTIE, semenjak ini pula boleh dikatakan setiap tahunnya banyak warga Teluk Rendah pergi naik haji ke Mekkah Arab Saudi untuk bersekolah maupun mengerjakan Rukun Islam ke-5 disini.
Pada tahun 1953 getah karet ini mulai dipasarkan setiap hari Jumat dengan sistem dilelang, artinya siapa yang tinggi penawarannya itulah yang berhak mendapatkan getah/karet. Semenjak pasar ini dibuka, tidak sedikit warga diluar Teluk Rendah berdatangan untuk mencari rizki, ada yang dari Jawa, Padang, Kerinci, dan Medan.
Pertengahan tahun 1955 atau 16 April 1955 terjadilah banjir besar di daerah Jambi dengan kedalaman 7 sampai 8 meter dari tanah, sehingga warga dievakuasi ke Teluk Rendah seberang, karena tempat ini lebih tinggi dan tidak kebanjiran.
Pemasaran getah (karet) terhenti semenjak terjadinya pemberontakan PKI yang dikenal sebutan Gerakan Tiga Puluh September 1965 (GETAPU PKI) sampai sekarang tidak ada lagi pasaran getah (karet) lagi.
Pada tahun 1982 Dusun Teluk Rendah dimekarkan menjadi 3 (tiga) Desa, sejak itu pula sebutan Lurah Kepala Dusun diganti menjadi Kepala Desa, yaitu Kepala Desa Teluk Rendah Ulu, Ilir, dan Pasar. Adapun Kepala Desa Teluk Rendah Ulu adalah M. Yusuf AR., Kepala Desa Teluk Rendah Ilir adalah A. Rasyid Na’im, dan Kepala Desa Teluk Rendah Pasar adalah Abd. Hamid Usman. Semua Kepala Desa selalu memajukan desa yang dipimpinnya untuk membangun desa dan kesejahteraan masyarakat tidak terkecuali Desa Teluk Rendah Pasar. Pada pertengahan tahun 1998 mendapat sarana penerangan listrik (PLN) melalui Bapak Drs. H. Abdurrahman Sayuti Gubernur Jambi. Seterusnya pada hari minggu tanggal 21 September 1998 berdiri pula/diresmikan PASAR MINGGU, keberadaan pasar ini sungguh sangat membantu bagi warga masyarakat setempat maupun warga yang datang dari luar. Karena untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari sudah tersedia di pasar ini dan tidak perlu keluar lagi seperti sebelumnya (membuang ongkos) lagi. Pada tanggal 19 Mei 1998 Kepala Desa Abd. Hamid Usman berhenti dan diangkat menjadi anggota DPRD KABUPATEN BUNGO TEBO.
Dibidang Pertanian
Teluk Rendah merupakan daerah pertanian yang luas khususnya pertanian sawah (payo) dan dikenal sebutan Bumbung padi di kewidaan Muara Tebo dulunya, luas sawah (payo) mencapai 3.000 Ha yang tersebar dimana-mana seperti : sawah dibelakang Dusun, Rawabento, Lubuklimas, Cempunik, Payotulung, Gelugur, Semut gatal, Kalendang, Pulai, Pelajauh, Limaumanik, Sungai pangkat, Lebak putu, Tanah dialai, pelayangan, Tabakar, Kasai dan Lebak labi (Sawah/ Payo ini luasnya 1.500.Ha.). Sampai hari ini baru sebagian yang dapat digarap para petani, karena tali airnya belum sampai ketengahnya sedangkan DAM sudah dibangun dan diresmikan langsung pada hari Selasa tanggal 19 Mei 1968 oleh Bapak M.Abd.Manap Gubernur KD.TK I Jambi.
Pada zaman penjajah Jepang warga Teluk Rendah tetap mengerjakan sawahnya yang tidak pernah berhenti, dalam keadaan serta suasana serba sulit pada masa itu, dimana-mana terjadi kelaparan, Busung lapar (kurang makan, penyakit menular meraja lela. Teluk Rendah dibawah Pimpinan Usman Al.Bujang/lurah Kepala Dusun, warganya tetap mengerjakan sawah bahkan menjelang menuai (panen) semua warga di perintahkannya memanen tanaman muda, ubi kayu, jagung, talas dan tanaman lainnya. Pemerintah Jepang bahkan memberi bantuan bibit Jarak untuk dikebunkan, buahnya dibawa ke negaranya untuk diolah menjadi minyak. Biarpun zaman Jepang terkenal sangat kejam, sadis, sewenang-wenang. Akan tetapi berkat pimpinan yang bijaksana oleh Usman Al. Budjang tidak pernah di jumpai warga yang di siksa. Pekerja Romusha, Rodi dan Gendrongshi hanya sebagian saja yang ikut, apabila ketahuan warganya dibawa militer untuk bekerja, langsung menghadap komandan TJODANTJO minta warga tersebut dikembalikan. Atas kepemimpinanya yang bijak dan bertanggung jawab ia mendapat tanda jasa atau piagam penghargaan dari pemerintah Jepang berupa SOERAT POEDJIAN dengan nama DEPATI DOESOEN TELOEK RENDAH tertanggal, Snowa 20, SNOGATU 8, DJAMBI SUSETYO, Moera Tebo TYUZUKAIKAI ditanda tangani oleh SEIOMI (setingkat pidana).
Bidang Pergerakan Pemuda dan Masyarakat
Pada masa perang kemerdekaan (AGRESI BELANDA KE II di Indonesia) yang ingin menjajah kembali di Indonesia, para pejuang dan pemuda-pemuda ikut mengangkat senjata bersama pejuang kemerdekaan dibawah komando BKR, TKR, dan TP tidak ketinggalan warga Teluk Rendah bersama Lurah Kepala Dusun Usman Al.Bujang. Para pejuang membuat markas di sini di bawah pimpinan : 1. Letnan A. Hasyim Alamlah. 2.Letnan Aziz Larose. 3. Letnan A. Aziz Pulungan dan Inspektur Polisi A. Hutahuruk dan lainnya, selama bermarkas dari tahun 1948 s/d 1949, ribuan pasukan pejuang kemerdekaan yang menjadi tanggungjawab, seluruh lapisan masyarakat tidak ada di berkhianat seorangpun. Berkat kepemimpinan lurah kepala dusun, para pejuang merasa aman dan tidak ada keluhan dalam segala hal, semua keperluan dan kepentingan bekal berperang selalu di persiapkan semuanya. Keberhasilan ini tidak terlepas dari peran tokoh-tokoh masyarakat, alim ulama, cerdik pandai, pemuda dan lainya seperti : M. Abubakar syaifuddin, H.M.Saleh.Azhari, H.M.Agel, H.Mahiddin dan tokoh tua yang banyak berjasa dalam membangun dusun Teluk Rendah. Untuk mengenang jasa dan pengorbanan warga ini, hari Jumat tanggal 2 Agustus 1952 datang utusan Panglima TTR II Sriwiajaya Palembang pimpinan Operste. M. Nawawi, dari Jambi Rasiden Inukartapati dan opertste Abunjani dan tidak ketinggalan rombongan Bupati Merangin bersama widana Muara tebo, serta pembesar-pembesar yang di undang. Kedatangan mereka untuk menyampaikan tanda penghargaan PIAGAM TANDA JASA kepada Usman Al.Bujang beserta warganya atas bantuan dan pengorbanan selama pasukan TJINDOR MATO berada di tempat ini. Piagam ini di tanda tangan oleh Panglimanya Let.Kol Bambang Utoyo dan gubernur Sumatra Selatan Drs. M. Isa, di hadapan ribuan warga yang hadir,utusan dari palembang berjanji membuatkan Tugu kenang-kenangan Di Dusun Teluk Rendah akan tetapi sampai saat ini belum juga terwujud. Seterusnya pada tanggal 17 Agustus 1958 Usman Al.Bujang mendapat tanda jasa dari Pemerintah Pusat berupa TANDA JASA SETYA LANCANA PERANG KEMERDEKAAN PERTAMA DAN TANDA JASA SETYA LANCANA PERANG KEMERDEKAAN KEDUA, kemudian pada tanggal 25 Desember 1963 diangkat menjadi anggota veteran Republik Indonesia dengan Nomor pokok/ Induk N.V.8555/J.
Untuk mewujudkan janji yang belum ada kenyataannya, maka pada tanggal 19 Agustus 1965 Usman Al.Bujang diutus oleh Guberbur Jambi Kol.M.Yusuf Singodikane bersama operste Azis Larose untuk menghadap Presiden Ir. Soekarno dan Jenderal Abd. Haris Nasution ke Jakarta dan di pimpinan-pimpinan Angkatan Darat yang pernah bertugas zaman Revolusi di Teluk Rendah antara lain. Harun Sohar, Burlian, Zulkifli Lubis dan yang pernah bersama-sama dalam kesatuan TJINDOR MATO. Keputusan yang ditelah dibawa telah disepakati bahwa, dalam waktu secepatnya Tugu tersebut akan dibangun dan di resmikan pada hari Angkatan Perang 5 Oktober 1965. Tetapi sayang sekali sebelum hal ini terlaksana, terjadilah pemberontakan PKI ke Tanah Air dengan sebutan Gerakan 30 September 1965 (GETAPU PKI),sejak peristiwa tersebut Tugu yang di janjikan tidak pernah lagi di suarakan sampai sekarang,.
Pada Tanggal 21 Maret 1982, Bendera Merah Putih yang pernah berkibar di Markas TJINDOR MATO Teluk Rendah di ambil di rumah Usman AL.Bujang oleh pak A. Azis Pulungan dan di pajangkan di Gedung Juang (Legium Veteran Sipin Ujung Jambi). Sejak tanggal 7 November 1950 Usman AL.Bujang diangkat dan di percaya menjadi Pasirah Kepala Marga Petajin Ilir di Sungai Bengkal sampai tanggal 8 Mei 1968.
Sejak tanggal 7 November 1950 Lurah Kepala Dusun Teluk Rendah dipimpin oleh Ramli Djailani, Abubakar Bakir, M. Saidi, Moh.Saleh Dung, M.Zaini dan A.Rasyid mereka semua tidak lain adalah keponakan sepupu, putra dan keponakan dari Usman Al.Bujang. Semua Kepala Dusun tersebut terus membangun dusunnya di segala bidang, baik dibidang pemerintahan dusun, pendidikan agama maupun umum terus di tingkatkan, pasar getah (karet) setiap hari jumat tetap di pelihara dengan baik. Sebab pasar ini merupakan sumber dana (keuangan), karena dengan dana ini dapat membangun untuk kepentingan umum lainnya. Siapa saja yang menjadi Lurah Kepala Dusun tetap membangun apakah melalui swadaya masyarakat ataupun melalui bantuan pemerintah tidak pernah berhenti. Pada pertengahan tahun 1967/68 secara swadaya membangun 1(satu) unit gedung Madrasah Ibtidaiyah secara swadaya,kemudian pada tahun pelajaran 1975/76 Dusun Teluk Rendah mendapat jatah bangunan SD.INPRES sebanyak 3 (tiga) unit masing-masing terdiri 6(enam) lokal yaitu: Dusun Teluk Rendah Ulu, Dusun Teluk Rendah Ilir dan Dusun Teluk Rendah Pasar, semua bantuan tersebut berasal dari pemerintah pusat.
Semenjak tahun 1955 lalu, sudah ada persatuan pemuda ditiap-tiap tempat di Teluk Rendah. Desa Teluk Rendah Ulu mempunyai persatuan pemuda RAUDATUSSUBYAN dan HUBBUL WATHAN, Desa Teluk Rendah Ilir dengan nama NAHDATUL UMMAH dan WUSLAHTUSSUBAN dan Desa Teluk Rendah Pasar dengan nama IMARATUL INSYAF, kemudian pada Tahun 1982 di tambah didepannya kata-kata KARANG TARUNA hingga sekarang. Semua karang taruna ini berlomba-lomba meningkatkan kelompoknya masing-masing terutama di bidang sosial masyarakat, keberadaan Organisasi Pemuda sangat membantu sekali bagi kepentingan kelompoknya seperti : kematian, pengantenan, cukuran dan kepentingan sosial lainnya. Organisasi Pemuda ini tidak pernah (ada) istilah Diskriminasi dengan warga pendatang atau memandang kesukuan (Etnis), semua sama dengan logo duduk sama rendah berdiri sama tinggi atau tegak sepematang duduk sehamparan artinya tidak ada perbedaan satu sama lain, logo yang sudah dipatri dari nenek moyang maupun dari datuk-datuk pendahulu dipegang erat yakni BERSATU TEGUH BERCERAI RUNTUH.
PERIODESASI KEPEMIMPINAN DESA
Pada tahun 1898 Dusun Teluk Rendah sudah dibentuk pemerintahan dusun oleh pemerintah Belanda dengan gelar Lurah Kepala Dusun yang setiap 5 (lima) tahun dipilih oleh penduduk, aturan ini samapai sekarang tetap dipakai. Setiap Kepala Dusun yang dipilh oleh masyarakat terus membenahi diri dan membangun Dusun agar masyarakatnya hidup dengan aman, damai, dan sejahtera. Pada tanggal 17 Mei 1927 – 1950 Usman Alias Budjang diangkat menjadi Lurah Kepala Dusun dengan Gelar SINGO DILAGO, dibawah pimpinan yang baru ini mulai membenahi dusun disemua bidang. Pimpinan dibagi menjadi : 1. Kepala Dusun disebut Lurah, 2. Wakil Kepala Dusun disebut Pengulu Mudo, dan 3. Wakil Pengulu Mudo disebut Mangku (pemangku adat).
Adapun nama-nama Lurah Kepala Dusun Kepala Desa yang pernah memerintah di Desa Teluk Rendah adalah :
A . 1898 – 1916 Abd. Hamid (Orang Tua) Usman Al. Budjang
B. 1916 – 1921 M. Saleh (Abang Abd. Hamid/ Paman) Usman Al. Budjang
C. 1921 – 1924 Idris (Sepupu Abd. Hamid/ Paman) Usman Al. Budjang
D. 1924 – 1926 Mahiddin (Sepupu Abd. Hamid/ Paman) Usman Al. Budjang
E. 1926 – 1927 H. Agel (Sepupu) Usman Al. Budjang
F. 1927 – 1950 Usman Al. Budjang
G. 1950 – 1960 M. Ramli Djalani (Keponakan) Usman Al. Budjang
H. 1960 – 1966 Abubakar Bakir (Sepupu) Usman Al. Budjang
I. 1966 – 1969 M. Sadik (Sepupu) Usman Al. Budjang
J. 1969 – 1972 Mohd. Saleh Dung (Putra) Usman Al. Budjang
K. 1972 – 1977 H.M. Zaini (Keponakan) Usman Al. Budjang
L. 1977 – 1979 A. Rasid Naim (Keponakan) Usman Al. Budjang
M. 1979 – 1982 A. Riva’i Saleh (Sepupu) Usman Al. Budjang
Pada tahun 1982 masa pimpinan Lurah Kepala Dusun A.Rasid, terjadilah pemekaran Dusun menjadi 3 (tiga) dengan sebutan Kepala desa Lurah Kepala Dusun dihapus atau dihilangkan dan diganti menjadi Kepala Desa. Tiga (3) desa tersebut adalah : 1). Desa Teluk Rendah Ulu, 2). Desa Teluk Rendah Ilir, dan 3). Desa Teluk Rendah Pasar. Nama-nama tersebut diambil berdasarkan posisi dari masing-masing daerah tersebut, dimana Teluk Rendah Ulu berada di bagian Ulu dan Teluk Rendah Ilir berada di bagian Ilir sedangkan Teluk Rendah Pasar berada di seberang yang merupakan tempat pasar lelang.
Kepala Desa Teluk Rendah Ulu pada saat setelah pemekaran adalah M.Yusuf AR, Desa Teluk Rendah Ilir adalah A. Rasyid Naim, sedangkan Teluk Rendah Pasar Abd Hamid Usman. Semua Kepala Desa terus membangun desa seperti adanya sekarang.
Adapun periodesasi kepemimpinan Desa Teluk Rendah Ilir adalah :
1. 1982 – 1995 A. Rasid Naim (Keponakan) Usman Al. Budjang
2. 1995 – 2000 Yazid Bustami (Keponakan) Usman Al. Budjang
3. 2000 – 2008 Buchari Sadik (Keponakan) Usman Al. Budjang
4. 2008 – Sekarang Hapiz Yunus (Cucu) Usman Al. Budjang
Desa Teluk Rendah Ilir pada awal pembentukannya dibagi menjadi 2 Dusun yaitu :
- Dusun Pulau Batu ( Daerah Tengah )
- Dusun Pulau Pasir ( Daerah Ilir )
Penamaan daerah tersebut berasal dari posisi dusun tersebut apabila air sungai batanghari surut, dimana daerah bagian tengah apabila airnya surut akan timbul batu-batu yang menyerupai pulau, sedangkan daerah Ilir akan timbul pasir.
Narasumber : 1). Mohd. Saleh Dung
2). Syargawi
Penelusur Cerita : 1). Akmal, S.P.,
2). Fibrika Rahmat Basuki, S.Pd.,
3). Risa Celviani, S.H.,
mantaf bang .. sayo copy yo artikel nyo.. biak tambah tersebar luas sejarah budayo kito
BalasHapusOk... Lanjutkan. Trmksh
BalasHapusSaya dan keluarga besar Azis larose mengucapkan trimakasih yg sebesar2nya atas tulisan anda atas sejarah jambi...semoga bermanfaat bagi kita semua..amin
Hapusmantan bang.
BalasHapus.
.
.
salam semangat
http://www.kabartebo.top
keren ....:)
BalasHapus